and posted in Uncategorized

“MATA TEDUH TANTE LIES”

 (Cerpen karya Novanda A.S.N.)

 

“Jangan lama-lama ya Dan! Tante kedinginan.”

Ujar Tante Lies sembari menutupi tubuhnya yang masih basah oleh keringat dan kehangatan cinta terlarang kami.

 

“Iya Tante, Dani kan cuma pengin beli rokok bentar, gatel nih bibir kalau nggak ngrokok.”

Ujarku sambil mengenakan kaos dan celana jeansku yang sedari tadi tak luput dari tangan jahil Tante Lies hingga jatuh di lantai kamar.

 

“Kan udah dirokok sama Tante? Apa nggak cukup? Kalau masih gatel, sini Tante rokok lagi!”

Canda Tante Lies sambil memainkan jari telunjuknya dibibirnya yang masih basah oleh cumbuan nakal kami.

 

“Ha..ha…ha, Tante bisa saja.”

Tutupku sambil tertawa renyah meninggalkan Tante Lies yang masih haus akan cintaku.

 

Akupun bergegas turun mengambil motor Tigerku yang terparkir rapi di garasi rumah milik Tante Lies. Jam baru menunjukkan pukul 10 malam, rasa keinginanku untuk merasakan batangan rokok tak bisa terbendung. Tak ayal malam-malam begini aku rela meninggalkan sejenak Tante Lies untuk beranjak ke minimarket 24 jam tak jauh dari kompleks perumahan dimana Tante Lies tinggal. Sekembalinya membeli rokok, aku segera menuju kamar Tante Lies, tampak dia masih begitu setia menungguku sembari menggeliat-geliat bagaikan ular liar.

 

“Udah dapet Dan rokoknya?”

 

“Lha ini.”

Ujarku sambil menyulut rokok dan menhisapnya rapat-rapat.

 

“Kebiasaan buruk kamu Dan, gitu ya! Kalau udah sama rokok suka lupa sama Tante?”

 

“Wah, Tante kok marah sih ? Normal kan Tante kalau Dani ngrokok ? Dani kan cowok tulen Tante.”

 

“Ah, kamu pinter ngeles, sini Tante jewer kupingnya !”

 

“Ah Tante nakal. “

 

Rokok yang aku pegang dan belum sempat habis ku hisap itu akhirnya aku letakkan di asbak yang berada di atas meja rias kamar Tante Lies. Godaan panas, nakal, liar, dan penuh gejolak nafsu terlarang kembali membanjiri adrenalin dan peluh kendaliku. Jujur, di saat-saat beginilah aku merasakan kasih sayang tak terbayarkan walaupun sebenarnya aku tahu, ini dosa terbesar dalam hidupku. Begitulah Tante Lies, seorang janda cantik 32 tahun tanpa dikaruniai anak yang baru ditinggal cerai suaminya. Dari perceraiannya tersebut, Tante Lies mendapat harta gono-gini yang lumayan banyak. Ini dapat dimaklumi karena mantan suaminya adalah seorang investor ternama yang biasa berurusan dengan saham dan surat berharga lainnya. Aku mengenal sosok Tante Lies kira-kira dua bulan yang lalu saat dia pertama mengajarku mata kuliah Pengantar Statistika Bisnis pada semester III yang lalu. Awalnya aku tak percaya kalau ternyata secara diam-diam Tante Lies yang merupakan dosenku sendiri diam-diam menaruh hati padaku. Hingga akhirnya Tante Lies mau melakukan hubungan terlarang denganku dengan mengajakku tinggal secara diam-diam di rumahnya. Sampai sekarang aku masih heran, hal apa yang membuatku bisa suka dan mau padanya. Aku yakin, hal ini bukanlah karena aku butuh akan uangnya atau rasa iba dan kasihan atas kesendiriannya, tapi ini lebih didasarkan akan rasa cinta tulus yang agaknya terhalang oleh usia dan status kita masing-masing sehingga rasanya sulit untuk mengikrarkan hubungan cinta terlarang ini dalam ikatan suci yang Tuhan berkati. Akupun musti sembunyi-sembunyi berhubungan dengan Tante Lies. Aku takut orang tuaku tahu kalau dia memiliki anak semata wayang yang dikirim jauh-jauh ke Bandung untuk menuntut ilmu malah melakukan perbuatan dosa yang amat dilarang dalam nilai dan norma yang berlaku. Entahlah aku musti berbuat apa kalau kedua orang tuaku tiba-tiba tahu tentang rahasiaku ini. Apalagi ayahku adalah seorang jaksa negeri yang ahli menuntut berbagai kasus hukum. Belum lagi bundaku tercinta yang saat ini divonis terkena sakit jantung, apa jadinya kalau beliau mengetahui rahasiaku ini, bisa-bisa beliau jatuh sakit mendadak atau bahkan meninggal. Tapi itu bukanlah Dani Siregar kalau tidak bisa menutup rahasianya rapat-rapat, aku selalu merahasiakannya dengan sangat rapi, bahkan teman-teman sejawatku di kampus yang akrab denganku tak ada yang tahu kalau aku berhubungan dengan Tante Lies. Di kampuspun aku berusaha bertingkah biasa saja ketika bertemu Tante Lies saat mengajar. Begitu juga ketika ada tamu yang ingin mampir ke rumah Tante Lies, aku selalu disembunyikan rapat-rapat dikamarnya. Untung semua keluarga besar Tante Lies ada di Manado, jadi keluarga Tante Lies jarang mengunjunginya ke Bandung, justru Tante Lieslah yang berkunjung menemui mereka utamanya pada libur hari natal untuk bertemu keluarganya tersebut.  Biarlah, biar semua rahasia terlarang ini aku simpan rapat-rapat dalam diriku, dalam diri Tante Lies, dan dalam catatan perbuatan dosa yang dicatat oleh Tuhan. Kadang ketika aku ingin berbagi rahasia nakalku tersebut aku suka menyendiri di daerah Puncak Bogor dengan berkendara motor sendirian. Disana aku suka mencari tempat sepi di antara hamparan hijau daun teh yang mengembang cantik dalam pucuk-pucuk keberagaman. Di sanalah aku menuangkan rahasiaku, di pucuk-pucuk daun teh itulah aku berbagi rahasiaku. Mungkin bagi sebagian orang inilah cara gila dan aneh untuk berbagi rahasia hidup, tapi bagiku inilah cara aman dan terpercaya. Aku lebih suka berbagi rahasiaku dengan pucuk-pucuk daun teh karena mereka sangat mengerti dan begitu rapatnya menjaga rahasia. Beda sekali ketika kita membagi rahasia kita kepada manusia, cepat atau lambat bibir mereka yang tak bertulang pasti akan menjelma menjadi rumah makan padang, membuka cabang baru untuk membocorkan semua rahasia yang kita miliki. Di penghujung curhatku pada pucuk-pucuk daun teh, aku selalu menutup rahasiaku dengan kalimat; “This is my own choice! Ini pilihan hidupku karena aku tahu bahwa hidup adalah pilihan, sebuah pilihan jahat yang nantinya harus aku pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan kelak ketika jatah hidupku habis.”

*******

 

Pagi sudah berkeciap meradang menuju penghalauan sang surya, cahaya samar-samar matahari masih tampak malu-malu menembus kamar dimana aku dan Tante Lies selalu menghabiskan malam. Udara dingin AC begitu lekatnya aku rasakan walaupun selimut tebal sudah menutupi tubuhku. Pelukan hangat Tante Lies masih mendayung mesra di dada bidangku. Begitu juga rambut panjangnya yang masih tergerai menapaki pipiku yang kasarku. Cairan lengket bekas semalam masih menempel basah di sekitar selangkanganku. Pelan-pelan aku mengambil jam tanganku yang ku letakkan di atas meja rias, “Oh damn!Jam 7 pagi. Bukannya aku ada kuliah jam 8 pagi hari ini!” Batinku dengan kaget. Akupun bangun dari tempat tidur dengan hati-hati tanpa ingin membangunkan tidur Tante Lies. Aku kasihan dengannya, karena seharian kemarin dia mengajar di kampus hingga sore. Untung Hari Kamis ini Tante Lies libur mengajar, jadi dia bisa beristirahat seharian di rumah. Dengan berjalan tanpa pakaian melekat, ku langkahkan kaki menuju kamar mandi yang masih satu ruangan dengan kamar Tante Lies. Di kamar mandi ini aku guyur tubuhku dengan shower, beginilah caraku untuk membersihkan diri sambil sesekali mengingat-ingat dosa yang telah aku perbuat. Dengan kaos T-Shirt dipadu jaket rompi hitam kesayanganku inilah aku menyiapkan diri untuk berangkat ke kampus hari ini, tak lupa ku gendong tas export yang didalamnya ada vaio berisi tugas-tugas kuliah yang aku kerjakan kemarin sore yang sudah siap aku print di rentalan dekat kampus. Tanpa bermaksud membangunkan Tante Lies yang sedang terlelap tidur, aku mengecup keningnya sambil berpamitan, “Dani berangkat dulu ya Tante.”

 

Di kampus inilah aku kadang merasa berbeda dengan teman-teman kelasku, di waktu istirahat sebelum kelas selanjutnya dimulai kami sering ngobrol bareng berdiskusi macam-macam dengan tema yang beragam tentunya, mulai dari urusan asmara dimana A putus sama si B gara-gara si B ketahuan selingkuh dengan mantannya, atau kadang sampai urusan perjodohan orang tua yang membuatku tak minat sebanarnya untuk mendengarkannya. Seperti obrolan istirahat kali ini yang sedang membicarakan masalah pergaulan bebas di Bandung, aku yang biasanya diam saja dan kurang aktif dalam obrolan tiba-tiba saja kena getahnya untuk ikut ditanyai pendapatnya pula.

 

“Eh Dan, hati-hati lho sekarang! Kamu kan bukan orang asli Bandung, apalagi kamu asli orang luar Jawa, sudah tahu kan soal betapa bebasnya pergaulan anak-anak muda di Bandung?”

Tanya Farhat temanku yang memang asli orang Bandung.

 

“Ya taulah, tapi biasa aja tuh. Di mana aja yang namanya pergaulan zaman sekarang ya kayak gitu.”

Jawabku seadanya tanpa ingin membahas masalah tersebut secara intens.

 

“Tapi Bandung beda dengan kota lain Dan, di Bandung tuh paling parah se-Indonesia, disini udah nggak merhatiin dosa atau nggak, orang yang udah terjerumus pergaulan bebas di Bandung udah egois sendiri dan gak mau ndengerin nasihat dari orang lain. Di Bandung tuh ibaratnya pergaulan bebas macam apa saja gampang banget dijumpai. Yang lain trend baru-baru ini di Bandung kan soal brondong-brondong yang dijadiin santapan tante-tante nakal di Bandung”

Respon Farhat padaku.

 

“Maksud kamu ngomong gitu ke aku buat apa? Kamu ada masalah sama aku Hat?”

Dengan nada marah merasa tersindir aku menarik kerah baju Farhat, teman-teman yang lain di sekitarku berusaha meleraiku dengan berusaha meluruskan perkataan Farhat.

 

“Eh, kok jadi gitu Dan! Jangan pakai emosilah! Farhat tuh cuma ngomong biasa aja gak ada maksud apa-apa. Kok kamu malah jadi kayak sinetron gitu marah-marah gak jelas!”

Ujar Nisaa yang berusaha meleraiku.

 

Akupun melepaskan tanganku dan pergi meninggalkan mereka yang tentunya masih penasaran dengan sikapku yang tiba-tiba marah tanpa sebab yang jelas. Oh, andai mereka tahu kalau perkataan Farhat begitu menohokku dan membuatku merasa malu karena tanpa mereka ketahui aku juga melakukan perbuatan terlarang seperti apa yang tadi mereka diskusikan. Tapi perbuatan terlarang yang aku lakukan itu bukan didasari akan pergaulan bebas, tapi lebih kepada rasa suka sama suka antara aku dan Tante Lies yang terhalang oleh usia dan status antara kami berdua. “Maafkan aku teman.” Batinku dalam hati sembari berjalan mengambil motor di parkiran. Aku tahu sehabis istirahat ini aku masih ada satu kuliah terakhir, tapi rasa kesal dan maluku pada teman-temanku tadi telah menyurutkan semangatku untuk berangkat kuliah pada jam selanjutnya dan memutuskan untuk pulang menenangkan pikiran.

 

“Eh selingkuhan Tante yang paling manis sudah pulang. Tumben jam segini sudah pulang? Bukannya kalau Kamis kamu kuliah sampai sore Dan?”

Sambut Tante Lies di depan pintu sambil mengecup keningku seperti biasa.

 

“Kuliahnya kosong Tante.”

Bohongku sembari mengernyitkan dahi dengan muka yang masih ditekuk.

 

“Kamu jangan bohong gitu, kamu pasti ada masalah. Cerita dong sama Tante!”

Desak Tante Lies dengan senyum mengembang setengah memaksa yang senantiasa membuatku luluh seperti itik keci bertemu induknya.

 

“Dani ganti baju dulu ya Tante ke atas! Ntar Dani ceritain.”

Responku dengan membalas senyumnya.

 

“Ya udah sana ke atas dulu ganti baju, Tante ambilin jus alpukat kesukaan kamu yang udah Tante buatin sejak tadi biar kamu kelihatan fresh ya!”

Ujar Tante Lies yang dengan semangat berjalan menuju dapur untuk mengambil jus alpukat kesukaanku yang disimpannya sedari tadi di lemari es. Sosok Tante Lies memanglah sangat istimewa buatku yang memiliki tiga peran ganda, sebagai dosen di kampusku, orang tuaku di Bandung, dan tentunya selingkuhan setia yang senantiasa membuatku kuat dan tak ingin jauh darinya.

 

Setelah berganti pakaian, ku temui Tante Lis yang sedang duduk-duduk menungguku di sofa panjang ruang keluarga sambil menyaksikan TV.

 

“Sini Dan duduk dekat Tante.”

Ujar Tante Lies sambil menarik erat tanganku untuk duduk berdekatan dengannya.

 

“Ni jusnya diminum dulu!”

Perintah Tante Lies sambil menyodorkan segelas jus alpukat kesukaanku. Aku suka jus buatan Tante Lies, rasanya tak jauh beda dengan jus buatan bundaku di Medan.

 

“Enak kan?”

 

“Enaklah, Tante yang buat.”

Jawabku.

 

“Dah sekarang cerita! Kamu ada masalah apa sih? Tante tahu kamu pasti ada masalah. Tante tahu banget soal kamu. Kalau ada apa-apa ceritalah! Tante tahu kalau kamu bolos kuliah kan hari ini?”

Ujar Tante Lies dengan penasaran.

 

Akupun bercerita jujur tentang kejadian yang aku alami tadi pada waktu berdiskusi dengan teman-temanku di waktu istirahat tadi yang membuatku begitu malu dan drop. Hingga tanpa terasa bulir-bulir air mataku menetes tak terhindar.

 

“Ya ampun Dani, Tante tahu kalau kamu belum bisa menerima kenyataan kalau kamu dan Tante menjalin hubungan terlarang seperti ini. Tapi apa kamu tak bisa menguatkan dirimu untuk bisa bertahan mendengar kata-kata temanmu itu yang notabene hanyalah diskusi semata. Toh temanmu juga tak bermakdud menyinggungmu kan?”

Nasihat Tante Lies padaku.

 

“Iya Tante, tapi lama-lama Dani malu Tante, Dani malu, Dani malu karena Dani berdosa pada Tuhan.”

Ujarku sambil mengepal kedua tangan dan memukul-mukulkannya di kepalaku.

 

“Tante tahu kalau cinta kita terlarang, tapi apa mungkin kita mensucikan hubungan ini dengan ikatan suci? Apa kata orang nanti Dan! Tante lebih suka kayak gini, walaupun kita tak terikat ikatan suci tapi kita bisa saling menyayangi dengan baik. Iya kan Dan?”

Jelas Tante Lies dengan nada tegas seolah-olah ingin menguatkanku.

 

Sejenak aku mulai tersadar dengan ucapan Tante Lis yang mulai mendinginkan hatiku. Segera ku peluk tubuh Tante Lies rapat-rapat. Ku pandangi mata teduhnya yang juga mulai basah oleh bulir-bulir air mata. Sorot mata teduh Tante Lies begitu hangat meneduhkan jiwaku. Ku kumpulkan kembali remehan-remehan kecil kebersamaan kami dalam setangkup harapan yang mulai mengeja romantisme kami. Rengkuhan nafas Tante Lies mendorongku untuk sesaat kembali terhenyak menjelajah cinta terlarang kami dengan saksi derit-derit sofa panjang yang mengganjal tubuh kami. Jiwa muda Tante Lies begitu aku rasakan berpadu dalam keheningan walaupun jiwanya tersebut tak sesuai dengan usianya yang sesungguhnya. Aku sadar jika caraku menikmati anugrah Tuhan berupa hadirnya kaum hawa untuk dinikmati dengan ikatan janji suci harus aku lakukan dengan jalan yang salah dan bagi sebagian orang mungkin telah melanggar nilai dan norma yang berlaku, tapi inilah aku, aku yang begitu sayang dengan Tante Lies. Dan semuanya telah aku jawab dengan kalimat; “This is my own choice! Ini pilihan hidupku karena aku tahu bahwa hidup adalah pilihan, sebuah pilihan jahat yang nantinya harus aku pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan kelak ketika jatah hidupku habis.”

Senja Jingga di Kota Lawet Kebumen

 

Leave your Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *