and posted in Uncategorized

Sebuah Cerpen karya Novanda A.S.N.

Untuk Manusia yang Merindukan Sebuah Kota Berjuluk Kota Cinta

 

ADA CERITA DI KOTAMU

 

Empat tahun, dua bulan, lima hari, dan lima belas jam lebih setengah jam. Itulah banyaknya waktuku yang terkalkulasi untuk belajar banyak dari sisi dan cerita kotamu. Nama kotamu cukup tersohor di penjuru keramaian kota-kota lain di sekitarmu, lalu menyebar ke pelosok dusun-dusun yang menyembul dibalik perbukitan, bertengger di lembah nan curam, tersembunyi di hutan-hutan lebat, atau menyapu riang di antara hamparan pesisir-pesisir pantai. Nama kotamu juga cukup akrab di telinga sebagian orang di pelosok dunia. Bahkan manusia di pelosok dunia sana ada yang menjulukimu dengan tagline “Never Ending Asia.”

Bagiku hinggap dan menetap sementara di kotamu adalah salah satu berkat terbaik dalam hidupku. Dari kotamu aku belajar banyak mengenai episode kehidupan. Aku belajar bagaimana aku hidup jauh dari orang tua untuk menimba ilmu di kotamu. Belajar kemandirian dan kesederhanaan dari dinding kos sederhana yang aku tempati. Belajar bagaimana mengenal cerita kehidupan manusia yang lain dengan model bungkus dan isi yang lengkap atau bahkan tanpa bungkus dan isi sama sekali. Dari kotamu pula aku belajar untuk menyayangi dengan tulus, kehilangan yang masih membekas, belajar bagaimana rasanya disakiti dan menyakiti, belajar menerima kekurangan manusia lain dengan persepsi yang berbeda, atau belajar bagaimana kerasnya hidup dimulai dengan berbagai cara yang dihalalkan dengan ego tak bertuan.

Setiap sudut kotamu menghadirkan gemerlap cerita yang tak ada habisnya. Sudah tak terhitung berapa banyak manusia yang dibuai oleh cerita kotamu. Dua puluh empat jam dalam sehari sepertinya begitu cepat melewati tiap meter kubik luas kotamu. Butuh beratus-ratus jam atau beribu-ribu jam dalam sehari untuk menjelajah tiap sudut kotamu yang tak pernah akan habis ditapaki. Kotamu ibarat ruhnya pesta yang menghipnotis jutaan manusia untuk menelusuri beranda rindu yang kosong lalu mengisinya dengan aneka rindu penuh rasa. Sama sepertiku, melewati kotamu dari berbagai dimensi waktu, ruang, manusia, episode, dan isyarat berbeda yang selalu unik untuk diceritakan kembali.

Sabtu, 29-Maret-2009. Diantara Gerimis Malam Angkringan Stadion Mandala Krida.   

Secangkir teh hangat, dua bungkus nasi kucing dengan lauk sambal teri, ditambah gorengan tempe dan tahu mengobati rasa lelah batin kesendirianku. Angkringan ini selalu menjadi langgananku setiap weekend datang dan setiap tidak mudik ke kampung halaman. Tak butuh waktu lama menjangkau tempat ini. Hanya bersepada motor sebentar dari kosku menyeberangi Jalan Kusumanegara lalu lurus ke utara melewati Kompleks Perguruan Tinggi Ahmad Dahlan. Ramai lalu-lalang kendaraan dan aktivitas manusia yang tak terganggu dengan gerimis malam ini. Maklum, kotamu selalu hidup dalam kondisi apapun. Seperti gerimis malam ini yang sepertinya justru membuat suasana kotamu menjadi romantis berbalut kisah malam minggu. Aku merasa sendu menikmati kesendirianku. Aku iri melihat sepasang muda-mudi disampingku saling melempar senyum bahagia, berbagi cerita, mengusap kepala masing-masing, dan saling bergantian menyeruput minuman hangat dan menyuapi makanan yang mereka pesan. Raut mukaku kembali menyorot ke arah ibu-ibu berkerudung yang sedang membuat teh pesananku. Suaminya tampak sibuk membuat wedang jahe pesanan pembeli lain. Sungguh, justru pasangan suami istri di angkringan ini menghadirkan energi cerita cinta sederhana yang tulus. Setiap keringat mereka adalah cinta tulus yang beraroma surgawi. Dari angkringan ini aku juga belajar kesederhanaan yang bahagia, dimana dengan uang alakadarnya saja, aku bisa mengganjal perutku yang lapar dengan aneka kudapan murah khas angkringan. Sebut saja sate usus, sate keong, melinjo goreng, kacang bawang, onde-onde, ketela goreng, tempe goreng, tahu goreng, nasi dengan porsi kecil ditambah sambal atau sayur alakadarnya yang berjuluk nasi kucing, teh hangat, wedang jahe, dan susu hangat adalah contoh-contoh kudapan dan minuman khas angkringan yang murah meriah dan cukup mengenyangkan bagi ukuran anak kos sepertiku. Apalagi di masa tanggal tua dimana uang kiriman bulanan mulai menipis, angkringan tentunya akan menjadi nafas berarti bagi manusia yang membutuhkan kebahagiaan dalam paket kesederhanaan.

Rabu, 21-Desember-2010. Senja di Floris Kotabaru. Warna-Warni Bergradasi Bercampur Wangi yang Semerbak.

Ditemani seorang manusia yang berjuluk sahabat. Kami sudah dua tahun saling mengenal. Sengaja sehabis pulang kuliah kami mampir sebentar di tempat ini untuk membeli bunga yang akan kami berikan kepada Ibu Ratna, dosen sekaligus pembimbing akademik kami di kampus di Hari Ibu yang jatuh pada hari esok. Deretan kios bunga berjejer rapi menyambut kami. Bunga-bunga tertata cantik di ember dan pot dalam berbagai ukuran. Walaupun sudah senja, mereka masih tampak segar karena rendaman air menolong mereka untuk bernafas. Mereka pasti lelah juga berada dalam kios ini, kalau boleh mereka memilih, mereka pasti lebih memilih untuk tidak dipetik. Berada pada induk tanaman bunga yang kuat, bermandikan embun pagi, dan tersenyum di antara semburat cahaya fajar lembah kaki pegunungan yang berada di daerah Bandungan Magelang. Tapi itulah kalian, dengan ikhlasnya kalian dipetik oleh para petani bunga lalu dibawa ke kotamu ini. Mereka bisa dibeli dalam keadaan bahagia untuk dipegang pengantin wanita saat mengucap janji suci pernikahan bersama pengantin pria di depan altar gereja, diberikan seorang kekasih kepada sang pujaan hati, atau diberikan kepada seorang sahabat yang sedang berbahagia melewati proses wisuda. Namun kalian juga bisa diberikan dalam keadaan duka ketika kalian dibentuk menjadi karangan bunga tanda ucapan duka cita atas meninggalnya seseorang atau ketika seorang pria memberikan kalian kepada wanita idamannya sebagai bukti cinta namun dengan sadisnya wanita itu menolak cinta dan bunga pemberiannya itu.

Di toko bunga ini, kami berdua sempat dikira sepasang kekasih oleh seorang penjual bunga. Waktu itu kami hanya senyum-senyum menanggapinya. Kami berdua sudah terbiasa dengan anggapan orang yang demikian. Kami sama-sama nyaman bersahabat walaupun beberapa ada yang bilang bahwa ‘Tidak ada pria yang murni bersahabat dengan wanita.’ Tapi itulah kami. Aku menganggap dia sebagai seorang kakak perempuan. Selisih usianya yang dua tahun lebih tua dariku membuatku nyaman berada disampingnya. Sosoknya memang dewasa, bahkan tak berlebihan kalau aku menyebutnya berjiwa keibuan. Dia tampak anggun membantuku memilih bunga yang akan aku bawa pulang malam ini. Dia menyarankanku untuk memilih bunga mawar merah dan warna putih. Cukup beralasan memang, karena bunga mawar menyimbolkan perasaan cinta dan sayang yang tulus. Dari floris inilah kembali aku diajarkan untuk saling menjaga dan menguatkan dinding rasa sayang yang tulus antar dua manusia yang berjuluk sahabat.

Minggu, 12-Maret-2011. Menyusuri Pagi Buta di Komplek Makam Imogiri.

Sengaja pagi itu aku bangun lebih pagi. Ragaku kali ini membawaku menjauh ke arah selatan menapaki petilasan makam raja-raja dan keluarga besar pendiri kotamu ini. Aku mengajak Brenda, kekasihku yang telah tiga bulan resmi aku ajak menjalin hubungan berpacaran. Kami sama-sama menyenangi travelling dan icip-icip kuliner. Hobi kami berdua juga didukung dengan aku yang suka memotret berbagai objek dengan kamera pocket pemberian Ayahku sewaktu aku lulus SMA, dan hobi Brenda yang sangat suka difoto. Hubungan kami sempat menjadi buah bibir teman-teman Brenda di kampus. Katanya sih Brenda yang tinggi, cantik, dan menjadi idola di kampusnya tak layak menjalin hubungan dengan pria berkulit gelap dan bermuka pas-pasan sepertiku. Bahkan ada yang bilang kalau Brenda memilihku itu sama saja dengan membeli kucing dalam karung. Tapi Brenda tetaplah Brenda yang selalu berusaha tersenyum dengan berbagai cibiran yang ada. Bagi dia omongan manusia lain hanyalah angin lewat yang tak perlu dipikirkan. Dia selalu meyakinkanku bahwa terkadang hidup harus menebalkan telinga, cuek, dan masa bodoh dengan omongan atau sikap orang yang tidak suka dengan kita. “Toh hidup kita tak hidupi mereka juga kan?” Ujarnya waktu itu tiap kali dia merespon keluh-kesalku tentang omongan orang. Justru dari situlah aku menilai kalau sisi kedewasaannya lebih matang dariku. Sosoknya tak hanya seorang pacar, tapi bisa menjadi sahabat, ibu, dan guru kehidupan yang jarang ditemukan oleh sosok wanita lain di masa sekarang.

Perjalanan jauh menuju Makam Imogiri kami awali dengan mampir sejenak membeli serabi di Pasar Imogiri. Dia tahu tempat langganan serabi kami, yaitu serabi Mbah Yam yang buka setiap hari dari pukul empat pagi sampai tujuh pagi. Jangan harap akan kebagian serabi kalau datangnya melebihi pukul tujuh pagi. Hanya membutuhkan waktu tiga jam saja serabi-serabi buatan Mbah Yam ludes terjual. Adonannya yang khas dengan resep rahasia menjadi keunggulan tersendiri serabi ini. Kamipun harus antri untuk menunggu pesanan kami jadi. Sembari menunggu, Brenda dengan isengnya memotretku yang sedang berdiri menahan kantuk. Aku hanya tertawa kecil melihat polahnya yang terkadang menjelma seperti anak kecil yang menemukan mainannya.

Sampai di makam, kami mengambil ancang-ancang untuk menaiki tangga menuju ke atas. Tak lupa kami memainkan mitos yang ada di makam yaitu dengan menghitung jumlah anak tangga dari naik sampai turun, apakah jumlahnya sama atau beda. Kami sempat beradu argumen ketika sampai puncak atas. Aku yang menghitung anak tangga dengan jumlah 712, lalu dia yang berhasil menghitung dengan anak tangga berjumlah 715. Debat itupun kembali berlanjut ketika menuruni anak tangga dan kembali menghitung jumlah anak tangga yang kami turuni dengan jumlah hitungan yang berbeda pula. Debat argumen kamipun terhenti dengan perut kami yang mulai butuh asupan makan. Aku menggandeng Brenda untuk duduk sejenak di undakan teras masjid kecil yang berada di komplek makam. Brenda dengan cekatannya membuka bungkusan serabi lalu mengambil satu dan menyuapkannya padaku. “Enak nggak Sayang?” Tanyanya padaku. “Apapun kalau kamu yang nyuapin pasti enaklah Sayang. Tanganmu kan tangan bidadari surga.” Rayuku polos. “Gombal banget! Berarti kalau disuapin tahi kucing mau dong?” Responnya yang disambut gelak tawa kami berdua.

Sabtu, 08-Desember-2012. Meneropong Senja Berkabut di Bukit Bintang yang Memayungi Kotamu.

Seperti yang diyakini Descartes dengan teorinya “Cogito, Ergo Sum” yang artinya “Saya Berpikir, Maka Saya Ada.” Dari situlah teori itu menjadi ruh setia dalam aku berproses menjalani hidup di kotamu. Aku yakin dengan berpikir jernih dan bertindak tepat, proses hidupku akan terasa dimanusiakan sehingga aku merasa ada dalam keberadaan hidup. Bagiku tahun 2012 adalah tahun klimaks dimana puncak kedewasaanku diuji secara matang. Ada berkah Tuhan di tahun ini, ada juga ujian berat yang harus aku jalani pula tahun ini. Akhir tahun ini aku resmi mendapat gelar sarjana. Kuliah rapi yang aku tempuh selama empat tahun layaknya patut aku syukuri. Gelar Sarjana Ekonomi dengan predikat cumlaude akhirnya aku raih di universitas berlambang matahari terbit ini. Namun sebulan jelang wisuda aku harus mengakhiri hubunganku dengan Brenda. “Ini yang terbaik Rik, kamu pria terbaik yang pernah aku kenal. Tapi maaf, aku belum bisa menjadi wanita yang terbaik untukmu.” Itulah alasan dia kenapa memutuskan hubungan kami waktu itu. Alasannya terdengar klise. Tanpa alasan yang jelas dia memutuskan hubungan ini. Lalu setelah putus dia menghilang secara tiba-tiba. Tanpa pesan, kabar, bahkan dia menghilangkan kontak di antara kami. Kontak FB dan Twitterku sudah dia block, lalu kontak BBM-ku tak luput dihapusnya. Nomor HP-nya pun tak bisa dihubungi lagi. Saat itu saking penasarannya, aku mencari keberadaannya dengan pergi menuju kos tempat dimana dia ada di kotamu. Sampai disana aku hanya menjumpai ibu kosnya. Dari beliau tak banyak aku gali informasi tentangnya. Beliau hanya bilang bahwa dia sudah pindah dari kos ini dan tak tahu dimana kepindahannya sekarang. Aku tertunduk terdiam waktu itu. Sepertinya dia ingin lari dariku. Niatku untuk mencarinya kembali aku urungkan. Aku yakin dia masih di kota ini dan tentunya punya alasan lain kenapa dia ingin lepas dariku. Akupun belajar pasrah melupakan. Toh ada hal lain yang lebih penting aku kejar dibanding memikirkannya yang jelas-jelas sudah pergi menjauh tanpa kabar dan tak ada hubungan spesial lagi denganku.

Senja ini aku arahkan laju motorku menuju ke arah timur dari kotamu. Menerobos lurus ke timur dari Jalan Wonosari untuk naik terus, melewati Piyungan dan masih lurus naik mendaki ketinggian wilayah pegunungan Gunung Kidul. Tampak kanan kiri jalan pepohonan rindang dan angin sore menyambut kedatanganku. Aku ingin sebelum resmi pulang ke kampung halaman, aku bisa menikmati tiap jengkal kotamu secara luas lagi. Rencananya besok pagi orang tuaku akan datang dari Pemalang untuk menjemputku. Mereka bilang sementara aku menunggu panggilan pekerjaan, aku disuruh membantu orang tuaku mengelola usaha bandeng presto yang sudah delapan tahun berdiri dan menjadi sendi perekonomian keluarga kami. Ada belasan karyawan yang menggantungkan hidupnya dari usaha ini, dan kata orang tuaku sebagai anak tunggal, aku punya kewajiban untuk kelak nantinya bisa meneruskan usaha yang telah berhasil menyekolahkanku sampai sarjana.

Di sebuah sisi jalan yang berada di Jalan Wonosari km. 27 ini aku berhentikan laju motorku di sisi pinggir jembatan. Banyak muda-mudi yang memakirkan kendaraannya di sisi jalan sepertiku. Aku dan mereka sepertinya tak mengindahkan larangan keras rambu-rambu jalan yang melarang pengendara kendaraan untuk berhenti atau memarkir kendaraannya di sisi jalan ini. Wilayah di jalan inilah yang disebut Bukit Bintang. Disebut Bukit Bintang karena dari sini ketika malam menjelang kita bisa menyaksikan dan meneropong kelap-kelip lampu yang bertebaran luas di kotamu. Konon kelap-kelip lampu itu ibarat kelap-kelip cahaya bintang di langit yang begitu indah untuk dilihat. Senyumku melebar takjub menikmati lapisan kotamu dengan berdiri meneropong luas ke sisi barat. Dari sini bisa aku lihat deretan bangunan di kotamu tampak terlihat kecil dari sudut pandangku. Sebuah pesawat tampak terbang rendah menuju satu-satunya bandara yang ada di kotamu. Awan cumolonimbus juga tampak asyik memayungi kotamu. Kilatan perak petir sedikit menyambar keluar dari awan cumulonimbus itu. Tampaknya hujan akan turun di kotamu. Opera langit di atas kotamu itu terus menyihirku. Tak terasa kristal-kristal air mata turun membasahi pipi. Ada sesak di dada ini yang berat untuk dikeluarkan. Ada deretan kata yang ingin berucap lewat bibir ini. “Jujur, aku berat meninggalkan kotamu.”

Minggu, 09-Desember-2012. Sebuah Kos di Celeban Lama Kelurahan Tahunan Yogyakarta. Selamat Jalan Kota Cinta.

Dua koper barang berisi pakaian, buku-buku, dan berbagai barang penting lainnya sudah aku packing rapi semalaman dibantu Nando dan Burhan yang merupakan adik kosku. Sebuah lemari pakaian kecil dan kasur busa sengaja aku berikan kepada mereka berdua. Bagiku terlalu repot membawa barang besar tersebut untuk dibawa pulang nanti. “Mas, mbok cari kerja disini saja. Nggak usah pulang njenengan. Nanti kalau saya pulang malem siapa yang mbukain pintu gerbang?” Ujar Nando adik kosku asal Blora yang baru enam bulan menetap di kos ini. “Gampang Dek, telpon Bu Kos suruh bukain pintu gerbang.” Celotehku yang disambut cekikikan mereka. Sore ini orang tuaku benar-benar datang menjemputku. Ciuman hangat Bundaku mendarat hangat di keningku saat aku sambut dirinya. Wajah mereka tampak berseri-seri menjemputku. Aku tahu sebagai anak tunggal tentunya keberadaanku di samping mereka adalah surga dunia yang tak tergantikan. Usia mereka yang semakin senja tergambar jelas dari kerut di kening dan uban yang tumbuh di rambut mereka. “Sudah beres kan Rik, masukkan dulu semua barangmu ke mobil. Kita temui Ibu dan Bapak kosmu untuk pamitan dulu.” Kata Ayah disambut Nando dan Burhan yang membantuku memasukkan koperku ke dalam mobil.

Setelah berbincang dan berpamitan sejenak dengan Bapak Ibu Kos, kini resmi sudah saatnya meninggalkan kotamu. Kota yang mengajarkanku akan banyak hal mengenai bahagia, sedih, hidup, hilang, lara, sendu, gelap, terang, marah, dan berbagai rasa yang jarang ditemukan di sudut tempat lain. Julukan kotamu memang banyak. Tapi ada satu julukan khas dariku untuk kotamu. Tak berlebihan memang jika aku menjuluki kotamu itu sebagai Kota Cinta. Kota dimana banyak manusia diajarkan bagaimana mencintai sesuatu dengan berbagai cara, bagaimana mencintai dalam keterbatasan, bagaimana mencintai dalam kesederhanaan, dan tentunya bagaimana mencintai cinta itu sendiri yang terkadang sulit didefinisikan oleh manusia yang lupa akan siapa dirinya.

Langit terakhir kotamu kali ini benar-benar berbeda warnanya. Warna abu-abu menggelayut dari langitmu membentuk ketiadaan tanpa jawab. Hati-hati, hatiku kosong lagi, melepaskan semua cerita dari kotamu. Aku tahu cepat atau lambat aku akan kembali ke kotamu. Mengisi hatiku yang kosong dengan aneka rasa cerita yang siap mengisinya.

Ruang Tamu Oma Massy dalam Keraguan Dogmatis

Kebumen, 03-09-2017

Pukul 19.36-23.55 WIB

One Comment so far:

  1. Jans says:

    Wah saya baca ini seperti sedang berada di sana. Apalagi ada kisah klasik para mantan perantau Jogja yaitu Kisah Cinta.. 🙂
    Alur nya mudah untuk diikuti sehingga mampu mengingatkan kembali kenangan-kenangan selama saya di Jogja.

    Sukses selalu Mas Novanda.

Leave your Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *